Pergunungan Papua Diterjang Oleh Banjir dan Longsor
Pergunungan Papua Diterjang Oleh Banjir dan Longsor. Papua Pegunungan diterjang bencana banjir bandang dan tanah longsor yang dahsyat sejak akhir November 2025, terutama di wilayah pegunungan seperti Kabupaten Jayawijaya dan Nduga. Hingga Rabu, 10 Desember 2025, korban jiwa mencapai puluhan orang, dengan ratusan rumah rusak dan ribuan warga mengungsi. Kampung Pobiatma di Distrik Asotipo, Jayawijaya, jadi salah satu titik terparah, di mana longsor tutup akses jalan utama dan banjir genangi permukiman. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) catat lebih dari 500 orang terdampak, sementara Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan gelar operasi darurat. Cuaca ekstrem akibat perubahan iklim jadi pemicu utama, tapi faktor geografis pegunungan tambah rawan. Gubernur Papua Pegunungan, Barnabas Suebu, sebut ini “musibah besar” yang butuh solidaritas nasional untuk pulihkan daerah terpencil itu. BERITA BOLA
Kronologi Bencana yang Menghantam Pegunungan: Pergunungan Papua Diterjang Oleh Banjir dan Longsor
Bencana dimulai 28 November 2025 di Distrik Dal, Kabupaten Nduga, saat hujan deras picu banjir bandang yang tewaskan 15 warga dan hilangkan 8 orang lagi. Longsor menyusul, hancurkan 50 rumah dan putuskan jembatan gantung. Lalu, awal Desember, giliran Jayawijaya: banjir bandang di Kampung Pobiatma, Asotipo, genangi 100 rumah dan longsor tutup Jalan Trans Wamena-Wai. Hujan intensitas tinggi—hingga 200 mm/hari—lanjut hingga 10 Desember, bikin sungai meluap dan tanah labil runtuh. BNPB laporkan 238 korban tewas keseluruhan di Papua Pegunungan, dengan 200 luka dan ribuan pengungsi. Akses sulit karena medan pegunungan, bikin evakuasi pakai helikopter TNI. Warga lokal bilang, “Hujan seperti air terjun, longsor datang tiba-tiba malam hari.”
Dampak Kemanusiaan dan Ekonomi: Pergunungan Papua Diterjang Oleh Banjir dan Longsor
Bencana ini tinggalkan luka dalam di masyarakat adat pegunungan. Di Nduga, 15 keluarga kehilangan anggota, sementara di Jayawijaya, 500 warga mengungsi ke kamp sementara di Wamena. Anak-anak dan lansia paling rentan: sekolah tutup, akses air bersih putus, dan penyakit diare mulai muncul. Ekonomi lumpuh—petani kehilangan lahan, perdagangan antar kampung terhenti, kerugian capai Rp 1 triliun. Warga Pobiatma, yang bergantung pertanian subsisten, kini andalkan bantuan beras dan obat-obatan. Relawan PMI dan TNI-Polri kerahkan 500 personel untuk distribusi, tapi medan curam bikin logistik lambat. Gubernur Suebu sebut, “Kami prioritaskan evakuasi dan medis, tapi trauma mental warga butuh penanganan jangka panjang.”
Respons Pemerintah dan Bantuan yang Masuk
Pemerintah cepat gerak. BNPB aktifkan status darurat nasional, kirim tim SAR gabungan dengan helikopter Super Puma. TNI Kodam XVII/Cenderawasih pimpin evakuasi, termasuk angkat material longsor pakai ekskavator darurat. Pemprov Papua Pegunungan salurkan bantuan Rabu pagi di Asotipo: beras, selimut, dan obat untuk 500 keluarga. Presiden Prabowo Subianto instruksikan Menteri PUPR dan BNPB percepat infrastruktur, termasuk bangun tanggul permanen. LSM seperti Walhi soroti deforestasi sebagai pemicu, tuntut reboisasi. Warga Pobiatma mulai dapat bantuan Kamis, tapi akses jalan baru dibuka parsial. Suebu janji audit mitigasi bencana, termasuk peta rawan longsor untuk 10 distrik pegunungan.
Upaya Pemulihan dan Pencegahan Jangka Panjang
Pemulihan dimulai pelan: tim gabungan bersihkan longsor di Asotipo, sementara pengungsi didaftar untuk bantuan tunai Rp 2 juta per keluarga. Sekolah darurat dibangun, dan posko kesehatan layani 200 pasien harian. Pakar UGM ingatkan, Papua Pegunungan masuk zona siaga banjir-longsor karena topografi curam dan hujan ekstrem—perubahan iklim tambah frekuensi. Pencegahan: BNPB rencana sistem peringatan dini berbasis radar cuaca, plus edukasi warga relokasi dari zona rawan. Suebu sebut kolaborasi dengan adat lokal kunci, agar mitigasi hormati budaya. Bencana ini telan nyawa, tapi bangkitkan solidaritas nasional.
Kesimpulan
Banjir dan longsor di pegunungan Papua tinggalkan duka mendalam, tapi respons cepat pemerintah beri harapan pulih. Dari evakuasi TNI hingga bantuan di Pobiatma, sinergi semua pihak jadi kunci. Kerugian besar, tapi pelajaran mitigasi tak boleh sia-sia—Papua Pegunungan butuh infrastruktur tangguh dan peringatan dini. Warga kuat, semoga bencana ini terakhir. Solidaritas kita semua, dari Jakarta hingga Wamena, bantu mereka bangkit.
You may also like

KemenImipas Mendonasikan Hasil Panen Raya ke Sumatera

Daftar Pejabat Baru di Polda Riau

Leave a Reply