Daerah Rawa Buaya Sudah 6x Kebanjiran di Januari. Kawasan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, kembali menjadi sorotan setelah mengalami banjir keenam kalinya sepanjang Januari ini. Hujan deras yang turun sejak Rabu malam hingga Kamis pagi menyebabkan genangan air setinggi 50–120 cm di beberapa ruas jalan utama dan perkampungan. Warga setempat sudah mulai terbiasa dengan siklus banjir yang kini terasa lebih sering dan cepat datang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hingga Jumat siang, sejumlah titik masih terendam meski intensitas hujan sudah berkurang. Banjir kali ini tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tapi juga menimbulkan kerugian material dan risiko kesehatan bagi penghuni. Petugas gabungan terus bekerja, namun warga mulai menyuarakan kekecewaan karena solusi jangka panjang masih terasa lambat terealisasi. BERITA VOLI
Penyebab Berulang dan Kondisi Terkini: Daerah Rawa Buaya Sudah 6x Kebanjiran di Januari
Banjir di Rawa Buaya dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi dan sistem drainase yang belum mampu menampung debit air secara optimal. Saluran mikro di kawasan ini banyak yang tersumbat sampah rumah tangga dan sedimentasi lumpur, sementara saluran primer sering meluap ketika hujan deras berlangsung lebih dari dua jam. Genangan terparah terjadi di Jalan Rawa Buaya, Gang Mawar, dan sekitar RW 03–05, dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa hingga dada anak kecil. Petugas dari Dinas Sumber Daya Air dan kelurahan telah mengerahkan pompa air sejak Kamis dini hari, namun debit air dari hulu masih cukup besar karena hujan lanjutan di wilayah Bogor dan sekitarnya. Warga melaporkan bahwa genangan sempat surut hingga 20–30 cm pada Kamis sore, tapi naik kembali setelah hujan ringan semalam. Beberapa rumah yang berada di level lebih rendah terendam hingga pinggang, sehingga banyak keluarga mengungsi sementara ke rumah tetangga atau posko kelurahan.
Dampak Sosial dan Upaya Penanganan di Lapangan: Daerah Rawa Buaya Sudah 6x Kebanjiran di Januari
Dampak banjir terasa luas di Rawa Buaya. Puluhan rumah terendam, beberapa kendaraan roda dua dan roda empat terjebak, serta akses ke sekolah dan tempat ibadah terganggu. Kerugian material meliputi perabot rumah tangga yang rusak, stok makanan yang terendam air kotor, serta gangguan aktivitas ekonomi warga yang banyak berjualan di pinggir jalan. Posko kesehatan kelurahan sudah didirikan untuk memantau potensi penyakit akibat air tercemar, sementara petugas mendistribusikan air bersih, makanan siap saji, dan obat-obatan dasar. Petugas gabungan dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Sumber Daya Air, serta relawan warga terus melakukan penyedotan air dan pembersihan saluran. Namun warga mengeluhkan bahwa pompa sering bekerja kurang maksimal karena debit air yang terus masuk dari hulu. Gotong royong warga juga terlihat—mereka membersihkan saluran kecil di depan rumah masing-masing agar air cepat mengalir ke titik penyedotan utama.
Harapan Pencegahan Jangka Panjang dari Warga
Meski penanganan darurat sedang berlangsung, warga Rawa Buaya mulai menyuarakan keinginan solusi permanen. Beberapa usulan yang muncul antara lain normalisasi saluran mikro secara menyeluruh, pemasangan grill filter sampah di setiap muara, serta pembangunan kolam retensi kecil untuk menampung air hujan sementara. Ada juga permintaan agar pemerintah lebih aktif melakukan pengerukan saluran besar di hulu dan sosialisasi ketat agar warga tidak lagi membuang sampah ke saluran. Warga berharap anggaran untuk perbaikan drainase bisa segera dialokasikan pada kuartal ini sebelum musim hujan semakin intens. Beberapa perwakilan RT/RW menyatakan bahwa banjir enam kali dalam satu bulan adalah sinyal bahwa sistem drainase kawasan ini sudah tidak lagi memadai untuk menampung curah hujan seperti sekarang. Mereka meminta agar pembangunan infrastruktur melibatkan warga agar lebih sesuai kondisi lapangan dan kebutuhan riil.
Kesimpulan
Banjir keenam di Rawa Buaya, Jakarta Barat, pada Januari ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih rentan terhadap genangan meski hujan tidak terlalu ekstrem. Penanganan darurat oleh petugas gabungan dan gotong royong warga sudah berjalan maksimal, namun genangan yang bertahan lama tetap mengganggu aktivitas dan menimbulkan kerugian. Solusi jangka panjang seperti normalisasi saluran, pemasangan filter sampah, dan pembangunan kolam retensi menjadi harapan utama warga agar siklus banjir tidak terus berulang setiap musim hujan. Pemerintah setempat perlu segera merealisasikan langkah-langkah pencegahan agar Rawa Buaya tidak lagi menjadi langganan banjir. Hingga saat ini, warga diminta tetap waspada terhadap genangan sisa dan menjaga kebersihan saluran agar proses surut bisa berjalan lebih cepat.
You may also like


Tren Kerja 4 Hari Seminggu 2026 Mulai Diuji Coba Nasional

Info Berita Terupdate Penemuan Energi Hidrogen Baru
Archives
Calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | 31 | |||||
Leave a Reply